Hijau Daun

TALE OF TWO city PARKS

Di halaman rumah seorang teman baikku ada dua buah pohon mangga berumur 24 tahun. Kedua pohon tersebut setiap musimnya selalu berbuah lebat dengan buah-buah yang baik masih mentah atau sudah masak rasanya lezat. Kedua pohon tersebut ditebang sewaktu angin sering bertiup sangat kencang karena keluarga temanku takut kedua pohon tersebut tidak akan sanggup mengimbangi kekuatan angin lalu tumbang menimpa rumah mereka. Rumah temanku terlihat tidak hidup setelah ditebangnya kedua pohon tersebut.

Di depan pagar sebuah rumah yang hampir selalu kulewati setiap lari pagi ada sebuah pohon bunga setinggi atap rumah dengan bunga-bunga yang cantik bewarna merah. Pohon tersebut membuat sepanjang jalan di mana pohon tersebut berada, jika pada pagi atau sore hari dipandang dari sudut tertentu, tampak bagai lukisan ”sudut kota yang sejuk”. Pohon tersebut ditebang sewaktu sang pemilik rumah menggelar pesta pernikahan putri pertamanya karena pohon tersebut menyulitkan pemasangan tenda pesta. Lukisan ”sudut kota yang sejuk” tampak timpang dan terlalu terang setelah ditebangnya pohon tersebut.

Di sisi beberapa jalan besar yang kulewati setiap pergi ke kantor beberapa pohon pinggir-jalan-besar yang tinggi-besar dan rindang-menyejukkan seperti akasia dan angsana juga menjadi korban penebangan. Penebangannya dilakukan sekelompokan orang. Pelaksanaannya dilakukan dengan keji, dengan memotongi kecil-kecil bagian demi bagian, lalu potongan-potongannya dibuang begitu saja atau dibakar. Sebagian dilakukan demi menyelamatkan kelancaran lalu lintas; sebagian dilakukan demi menyelamatkan kabel listrik dan telepon.

Begitulah setiap hari, pohon demi pohon—besar ataupun kecil—terus saja bertumbangan dengan berbagai alasan. Ada yang dengan sengaja; ada yang dengan tak sengaja. Ada yang diiringi dengan kepasrahan, ada yang diiringi isak tangis, ada yang diiringi sumpah serapah.

14.jpg

Suatu hari, ketika kebetulan melihat lagi sebidang tanah digunduli, kekecewaanku akhirnya mencapai puncaknya. Aku memberanikan diri mendatangi penanggung jawab proyek. ”Kenapa?” tanyaku. ”KENAPA?”

Si penanggung jawab proyek menerimaku dengan cukup bersahabat. Ia tersenyum melihat kegalauanku. Dengan ramah dan tenang ia berkata, ”Tanah ini akan dibuat taman kota.”

APA? Kejutan. Di luar dugaan. Untuk pertama kalinya aku mendapati pembinasaan pohon-pohon ternyata untuk pembuatan sebuah taman kota. ”Taman yang seperti apa?” tanyaku kemudian.

”Taman paru-paru kota. Isinya berbagai macam pohon yang dianggap perlu.”

Luar biasa. Sebuah taman dengan beranekaragam pohon—sama sekali tidak terbayangkan olehku sebelumnya. Sepertinya akan hebat. Tapi … ”Bagaimana dengan tanah yang di sana?” tanyaku merujuk pada sebidang tanah tepat berseberangan jalan dengan tanah yang akan dijadikan taman kota. Tanah yang kedua luasnya sekira dua kali lebih luas dari tanah pertama.

”Tanah ini milik kota, tanah itu milik pribadi. Tanah ini akan dibuat taman kota, tanah itu akan dibuat taman kota juga.”

LUAR BIASA. Dua buah taman dibuat oleh dua pihak dalam satu waktu? Apa itu artinya masyarakat umum sudah semakin menyadari pentingnya lingkungan yang asri?

8.jpg Setengah tahun berlalu. Kata-kata orang yang mengaku sebagai penanggung jawab proyek ternyata bukan bualan. Kedua taman akhirnya selesai dibuat dalam waktu yang bersamaan. Taman pertama adalah taman milik pemerintah kota yang dibuka untuk umum. Taman tersebut penuh dengan anekajenis tanaman, mulai dari bunga-bunga aneka warna, belukar-belukar yang disusun dengan beberapa variasi kombinasi tanaman, sampai beberapa pohon besar nan rindang dengan tinggi hingga belasan meter yang sengaja didatangkan langsung dari hutan. Pada taman tersebut juga dibuat pagar-pagar pembatas dan jalan-jalan setapak dari batu sementara seluruh permukaan tanahnya yang tersisa dilapisi rumput-rumput jarum. Di beberapa tempat yang berlapis rumput tidak lupa dipasangi papan-papan peringatan ”dilarang membuang sampah sembarangan” dan ”dilarang menginjak rumput”. Taman kedua adalah taman milik pribadi yang dibuka untuk umum. Taman tersebut luasnya dua kali lebih luas dari taman pertama namun populasi pepohonannya tidak sepadat taman pertama. Taman tersebut tidak dilengkapi dengan pagar-pagar pembatas namun justru dilengkapi dengan bangku-bangku taman untuk istirahat dan beberapa sarana bermain anak-anak. Papan-papan peringatan yang dipasang di dalamnya berbunyi ”dilarang membuang sampah selain di tempat sampah” dan ”injaklah rumput dengan penuh cinta”.

Kedua taman sempurna di mataku. Hanya satu hal yang memunculkan pertanyaan dalam benakku. Injaklah rumput dengan penuh cinta? Apa maksudnya?

Aku menemui si pemilik taman untuk bertanya. Aku ingin tahu kenapa dia justru menganjurkan untuk menginjak rumput? Apa dia tidak takut rumput-rumput yang halus itu akan mati akibat terinjak-injak? Atau ini adalah semacam psikologi terbalik?

”Rumput-rumput yang hidup dalam lingkungan manusia mati bukan karena diinjak,” kata si pemilik taman, ”Rumput-rumput yang telah tersentuh manusia mati karena tidak diacuhkan.”

”Tidak diacuhkan?”

”Tidak dianggap ada. Tidak dianggap punya fungsi. Tidak diperhatikan,” jelas si pemilik taman. ”Semua itulah yang membuat rumput-rumput malas untuk bertahan hidup.” Mengatakan rumput bukan untuk diinjak sama dengan mengatakan pohon bukan untuk dipanjat.

Apa benar demikian? Rasanya kurang masuk akal. Namun, setelah setengah tahun lagi berlalu ucapan si pemilik taman terbukti. Dalam hitungan bulan taman kedua menjelma menjadi sebuah taman yang ramai didatangi orang. Ada yang datang untuk menikmati atmosfirnya, ada yang datang untuk memanfaatkan ruangnya sebagai arena bermain, ada yang datang sekadar untuk tidur atau tidur-tiduran. Selama itu pula—seperti yang dikatakan si pemilik taman, rumput-rumput pada taman kedua tetap tumbuh dan tetap hijau meski setiap harinya diinjak-diinjak bahkan dipakai sebagai tempat bermain. Hal yang serupa justru tidak terjadi pada taman yang lebih kecil. Taman yang pertama dalam setengah tahun saja telah menjelma menjadi sesuatu yang gelap. Segala sesuatu di dalamnya tetap tumbuh, namun tumbuh liar. Tak seorang pun tertarik pada taman tersebut. Tak seorang pun berhasrat mengenalnya. Ia terabaikan, terbengkalai, tidak terurus. Dari kedua taman tersebut aku akhirnya mulai menyadari beberapa hal pokok tentang hubungan antara manusia dan lingkungannya. Manusia biasanya hanya peduli untuk menjaga tempat-tempat di mana ia berkepentingan. Manusia biasanya hanya menyukai tempat-tempat di mana ada tempat untuknya. Dengan kata lain, ”SEBUAH TEMPAT YANG INDAH ADALAH TEMPAT DI MANA TERSEDIA TEMPAT UNTUK MANUSIANYA JUGA”—taman yang indah adalah taman di mana tersedia tempat untuk manusianya juga.

Hutan adalah taman dalam ukuran besar. Untuk melestarikan hutan maka ia lebih dulu harus dicintai atau disukai. Untuk mencintai atau menyukai hutan maka ia lebih dulu harus merupakan sebuah tempat yang indah atau berharga. AGAR SEBUAH HUTAN MENJADI INDAH ATAU BERHARGA MAKA PADANYA TIDAK BOLEH SAMPAI HANYA BERISI TUMBUHAN DAN HEWAN NAMUN HARUS PUNYA TEMPAT UNTUK MANUSIA JUGA!

28.jpg

FREE TREES but NO ROOM

Pada suatu Minggu pagi yang cerah di musim panas tahun lalu aku berjalan-jalan pagi sendiri untuk menikmati kedamaian Minggu pagi seperti biasa. Aku berjalan-jalan berkeliling melalui rute-rute yang biasa kulalui. Di tengah perjalanan pulang melalui salah satu rute yang biasa kulalui seorang anak laki-laki yang tidak kukenal memanggilku dengan ramah. Ia menawariku sesuatu.

“Kak, mau bibit pohon?” tawarnya. 30.jpg ”Gratis,” sambungnya cepat tanpa membuat kesempatan bagiku untuk mencerna tawarannya. Sikapnya tepat. Aku yang semula bermaksud menolak seketika tertegun. Bibit pohon gratis? Benarkah? Sungguh Minggu pagi yang penuh keberuntungan. Sebab, aku suka pohon dan aku sangat suka gratis!

”Ada bibit mangga, ada bibit jambu air. Silakan diambil asalkan ditanam. Dua juga boleh,” kata si anak lagi. Ia kemudian juga menjelaskan kalau ia dan teman-temannya yang lain yang baru kusadari juga sedang menawari bibit-bibit pohon ke orang-orang yang kebetulan lewat berasal dari sebuah organisasi swadaya yang sedang melakukan program pembagian bibit pohon gratis untuk penghijauan.

”Ada bibit pohon apa lagi?” tanyaku yang dengan cepat mengubah ekspresi penghindaran menjadi ekspresi tertarik.

Bibit yang dibagikan ada tiga macam. Dua tanaman buah dan satu tanaman bunga. Tanaman bunga yang ditawarkan tidak kukenal jadi aku tidak tertarik untuk memilihnya dan memutuskan untuk memilih kedua tanaman buah saja. Satu-satu. Satu bibit tanaman mangga dan satu bibit tanaman jambu air. ”Tapi aku tidak bisa berkebun,” jelasku bernegosiasi. Jujur saja, aku tidak ingin merepotkan ibuku.

”Gampang,” kata si anak, ”Tanam saja bibitnya dalam tanah lalu jangan lupa diairi setiap hari. Dan kalau bisa juga diberi pupuk.”

Hanya mengeluarkan bibit tanamannya dari plastik yang mewadahinya, lalu menanamnya ke dalam tanah, lalu mengairinya setiap hari. Pekerjaan mudah. Aku merasa sanggup merawat bibit yang kuterima. Hanya saja …

Tahu apa masalah terbesar pepohonan di perkotaan saat ini selain polusi, limbah industri, dan kecerdasan manusia kota yang di bawah rata-rata? Ya, benar; PERMUKIMAN SEKARANG DIBUAT TANPA MENYEDIAKAN CUKUP LAHAN BAGI POHON-POHON UNTUK BISA TUMBUH SEBAGAI TUMBUHAN/KEKUATAN PELINDUNG/PENYEIMBANG EKOSISTEM!

24.jpg Halaman rumahku, seperti halnya halaman rumah-rumah lainnya di lingkungan rumahku, hanya seukuran luas kuburan dua orang dewasa dirapatkan dan aku sudah punya sebuah pohon mangga yang tingginya tidak bisa melampaui langit-langit rumah karena akarnya kekurangan ruang untuk tumbuh! Jadi, di mana aku bisa menanam dua bibit pohon lagi?

Ingat akan kenyataan itu aku pun tersenyum pada si pecinta lingkungan yang memandangiku penuh harap. Padanya dengan penuh ketulusan aku berkata, ”Kegiatan ini berlangsung sampai kapan? Sekarang saya masih ingin berkeliling. Nanti saja saya datang lagi. Mungkin siang atau sore. Mungkin …”

22.jpg

PLASTIC WORLD

Global Warming terjadi disebabkan oleh berbagai faktor. Salah satunya adalah semakin berkurangnya pepohonan pelindung dan penyeimbang ekosistem. Berkurangnya pepohonan sendiri juga disebabkan oleh berbagai faktor. Dari berbagai faktor tersebut ada satu hal yang cukup berperan sebagai pendorong namun tidak begitu disadari keterkaitannya. Untuk mengetahui hal itu pertama coba datangi sebuah pasar swalayan. Perhatikan rak-raknya. Apa yang terlihat di sana?

Pepohonan dan segala yang berasal dari pepohonan? Bukan. Bukan itu yang harus bisa kau lihat.

Makanan dan minuman? Bukan juga.

Produk-produk perawatan tubuh? Bukan juga.

Produk-produk keperluan rumah tangga? Bukan juga.

Lantas?

SEGUNUNG PLASTIK DAN KARDUS YANG AKAN SEGERA MENGISI TEMPAT SAMPAH! Itulah jawabannya.

Hampir separuh dari isi sebuah swalayan adalah sampah, terutama sampah plastik. Mi instan, kopi instan, bumbu masak, permen dan cokelat, sampo sachet, deterjen, majalah, dan hampir semua barang lainnya yang dijual di sebuah swalayan diplastiki, di mana plastik-plastik tersebut kemudian hanya akan dibuang. Belanja keperluan sehari-hari kita hampir separuhnya adalah sampah. Belanja keperluan sehari-hari kita sebagian biaya yang dikeluarkan adalah untuk membeli sampah. Kita hidup dalam DUNIA PLASTIK! Pohon-pohon tidak akan bisa mengakar pada plastik! Pemanasan global akan semakin sulit diatasi dengan plastik bertebaran di mana-mana! Sebagai seseorang yang tidak ingin sengsara di hari tua aku berusaha untuk peduli. Sebagaimana banyak dianjurkan setiap sampah plastikku, khususnya yang kering, kukumpulkan hingga menumpuk untuk kubuang tersendiri. Hanya saja …

a1.jpg

gb (a) 1

 a2.jpg

gb (a) 2

a3.jpg 

gb (a) 3

Foto (a) adalah foto TPA (Tempat Pembuangan Akhir) Sarimukti, TPA pengganti dari TPA Leuwigajah yang pada awal 2005 longsor mengubur permukiman penduduk di dekatnya dan menewaskan cukup banyak orang. Warna keabuan pada foto adalah gunungan sampah.

b1.jpg

gb (b) 1

b2.jpg

gb (b) 2

Foto (b) adalah foto pekerjaan drainase pada TPA Sarimukti yang dikerjakan oleh sebuah pemborong.

c1.jpg

gb (c) 1

c2.jpg

gb (c) 2

Foto (c) adalah foto pekerjaan drainase pada TPA Sarimukti pada tahap selesai dikerjakan.

d1.jpg

gb (d) 1

d2.jpg

gb (d) 2

d3.jpg

gb (d) 3

d4.jpg

gb (d) 4

Foto (d) adalah foto yang bukan untuk menjelaskan bahwa “drainase” adalah proses untuk mengalirkan bagai air sampah-sampah yang dibuang secara asal pada sebuah TPA ke sungai-sungai atau laut.

Foto-foto yang disisipkan adalah sekadar untuk memperlihatkan sebuah kesalahan fatal yang mungkin tidak disadari. Bukan pada apa yang terlihat melainkan pada apa yang tidak terlihat, sebab pada foto-foto yang dilampirkan tidak terlihat beda antara SAMPAH KERING dan SAMPAH BASAH!

Tidak terlihat ada gunungan sampah khusus sampah basah, tidak terlihat ada gunungan sampah khusus sampah kering, tidak terlihat gunungan sampah khusus sampah daur ulang.

Kenapa? Lantas apa artinya ada TEMPAT SAMPAH KERING dan TEMPAT SAMPAH BASAH? Apa artinya sebagian orang sengaja memilah sampahnya sedang pada akhirnya sampah-sampah tersebut justru kembali dicampur?

Aku bukan seorang ahli sampah—tidak bisa menjelaskan apa-apa. Aku hanya bisa bilang, jika kau adalah seseorang yang mencintai alam ini dan ingin mencegah terjadi pemanasan global yang lebih parah maka sebagai salah satu solusi yang bisa kutawarkan mulai detik ini ingatlah selalu untuk … JIKA MEMBELI MAKANAN DAN MINUMAN DARI SWALAYAN MAKA HABISKAN SAMPAI BUNGKUS-BUNGKUSNYA atau BELILAH MAKANAN DAN MINUMAN HANYA YANG KEMASANNYA JUGA BISA DIMAKAN!


Satu Tanggapan to “Hijau Daun”

  1. Nice story..semoga bisa membantu program pemerintah..

Tinggalkan Balasan